Bandung: All about Memories (Part 1)

Ada beberapa kenangan penting dengan Bandung. Di sanalah pertama kali punya pengalaman tinggal di rumah kost. Pertama kali naik angkot. Pertama kali berusaha meraih cita-cita besar. Pertama kali mengalami kegagalan dalam hidup: tidak tembus tes masuk FSRD-ITB.

Yuni - Dina - Me - SilviaTapi ini bukan cerita tentang semua itu. Ini catatan liburan akhir pekan di Bandung, 1 – 3 Juni 2007.

Buat yang tinggal di Jakarta, berlibur ke Bandung, bukanlah suatu kemewahan. Tapi buat aku yang sudah sekian lama tak punya akhir pekan, bisa berlibur ke sana, sudah menggembirakan..

Jatuh hati pada nasi hideung

Adalah Pak Sanca – tolong jangan sampai berpikir tentang makhluk melata itu, karena dia sama sekali tidak membahayakan – sopir BlueBird yang mula-mula bertanya, apakah kita sudah pernah ke Punclut, tempat kota Bandung bisa dilihat dari atas. Kita jawab: BELUM. “Di sana kita bisa makan nasi item”, katanya lagi. “Apakah cuma di sana tempat kita bisa makan nasi item?” tanyaku untuk memastikan jangan sampai usaha pergi ke Punclut – sesuatu yang sama sekali tidak pernah direncanakan, hanya sesuatu yang tak terlalu penting dilakukan. Pak Sanca menjawab, “Ya, cuma ada di sana.” Well, apa boleh buat, kali ini diperlukan spontanitas. Setelah check-in di Jayakarta Boutique, kita meluncur ke Punclut.

img_0507-punclut.jpgJalan ke Punclut, ternyata tidak mudah. Kita harus melewati jalan tanah yang berkelok tajam, naik turun, cukup bikin was-was. Yang makin bikin was-was, tidak ada tanda-tanda bahwa nasi item itu masih tersedia di warung-warung yang kita lewati. Bahkan, warung-warung itu tutup. Saat itu sekitar pukul 5 sore.

“Nasi hideung, aya’?”, Pak Sanca bertanya pada orang ke-2 yang kita temui di jalan, sambil mencari petunjuk jalan. Mungkin lagu yang agak tepat untuk menggambarkan suasana hati saat itu adalah lagu Balonku Ada Lima, pada baris ini: “….hatiku ‘mulai’ kacau….”

Sindang HeulaAkhirnya, kita bertemu juga dengan Nasi Hideung. Dalam bakul nasi - warung tempat kita menjatuhkan pilihan - tersedia 3 jenis nasi, nasi putih, nasi merah, dan nasi hitam. Warna nasi hitam, tidak sehitam yang dibayangkan juga. Nasi hitam ini hanya sedikit gelap dari warna nasi merah. Dan rasanya……. ughhh….. benar-benar kriminal..!!

Isi piring DinaSebagai teman nasi hideung, kita pilih pepes ayam, pepes jamur, pepes ikan mas, dan tahu tempe goreng.

Sambal enakSambalnya habis digasak Mbak Silvi dan Yuni. Enak banget siiihhh…. Btw, apa nama sambalnya, Yun? Semua orang nambah, sampai semuanya tandas. Kalo nggak salah, Dina nambah sampai 5 kali.. :D

Kerupuk hideungOh ya, kerupuknya juga item loh….. Apakah juga karena mengandung nasi hideung? Ah, tak penting juga pusing mikirin bahan pembuatnya. Yang penting, makaaaaaannn…..!!!

Dan untuk semua keindahan rasa ini, kita cukup bayar 33 ribu sekian saja, sudah termasuk teh wangi dan kopi tubruk. Sempet terpikir, untuk menjadikan nasi hideung sebagai menu makanan ritual setiap kali bila berkunjung ke Bandung lagi..

Bersambung ke: Part 2

4 Comments

  1. Sebetulnya in ibukan comment tapi tambahan info dari aku yang juga anggota tour de Bandung.

    Emang enak banget kalo liburan itu tidak direncanakan dengan matang, tapi ternyata hasilnya ‘matang’ banget and berkesan.
    Dan arti dari perjalanan kita kali ini adalah, kita menghargai sebuah ‘trust’. Kenapa begitu? Bayangin aja: kita tidak punya agenda acara sama sekali: what to see, what to do, dan lain-lain. Pas di BlueBird aja sang supir yang lucu dan baik hati mengusulkan untuk pergi ke Punclut, kemudian timbul kata-kata ‘nasi hideung’ dsb.. Bisa aja kan kalo kita nih, orang Jakarta paling was-was sama orang asing, dan menolak ‘ajakan’ sang supir. Tapi waktu itu kita berempat ok ok aja bahkan semangat (itu menjelang Maghrib lho ‘Ta… alias udah remang2).
    Kemudian di warung yang sederhana juga kita bisa lihat bagaimana orang ‘desa’ di Punclut itu sangat ramah, baik dan lucu juga. Berhubung kita satu-satunya customer, maka kita dimanjakan, alias makanan sangat cepat tersaji.

    Yang paling asik dari liburan ini adalah bagian ‘patungan’. Jalan berempat bikin kantong kita tidak cepat kempes, karena semua biaya dipikul bersama-sama, susah dan senang atau mahal dan murah pun ditanggung bersama

    Gitu aja…. Looking forward for the next trip….

  2. Tadi comment-nya cuma test doang..sekarang comment beneran..:
    “Akhirnya, jadi juga ya pada liburan ke Bandung..Sayang banget aku kemaren gak bisa ikutan heboh. Lain kali, ke Bandung-nya jangan pas long weekend ya..biar gak senggol senggolan pas belanja di FO. Terus..supaya bisa ke kafe strawberry juga..tentunya setelah menikmati nasi hideung di punclut…”

  3. Aku bingung mau kasih komen apa, tapi perjalanan ke Bandung kemaren amat sangat berkesan, no complaining about our job, no complaining about anything, dan kita semua sangat menghargai sekali perjalanan ini dengan tidak melakukan perbuatan kriminal lainnya yaitu dengan “tidak melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan” (maklum, dari habis ngomongin UU melulu, jadi masih hangat di kepala mengenai perbuatan tidak menyenangkan tersebut). Dan menurut gue, setiap liburan tidak memerlukan sebuah kemewahan yang kadang tidak perlu, tapi cukup dengan saling menghargai, saling menghormati, saling sayang, dan juga spontanitas…no agenda is not the end of the world, no nice hotel is not big problem…enjoy aja lagi….pokoknya kata coca cola dech, mainkan….(benar ngga sih itu coca cola…lupa gw….) The next trip kemana nich? ke Yogya? hehehehehe….. mi bakmi, mi bakmi…

  4. hai nita!
    wow… liburannya oke banget! kalo aja buntut dan rombonganku ngak banyak… pengen banget ikutan… pasti acaranya makan en makan en makan enak terus ya……………………………………….. andaikan diriku bisa turut….


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment