Bandung: All about Memories (Part 2)

Seperti halnya kesedihan dan kebahagian, kepanikan pun menular…

Rumah Mode adalah FO pertama yang kita kunjungi, malam itu, hari pertama berakhir pekan di Bandung. Walaupun sudah menyiapkan mental, kita bakal menemui keramaian yang luar biasa, tetap saja ada kejutan-kejutan kecil. Contohnya: nyenggol pantat orang berkali-kali, kena hempasan siku tangan sesama pengunjung yang tak sengaja (atau sengaja?), mendengar perbincangan dengan logat Malaysia, kehilangan teman belanja sehingga terpaksa nelpon berkali-kali dengan pertanyaan yang itu-itu juga, “Kamu di mana?”

Silvia - Me - Yuni - DinaSetelah Rumah Mode, berikutnya adalah Heritage, Cascades, dll… Semuanya sama saja. Banyak orang panik di dalamnya. Semuanya sibuk mengaduk-aduk. Kita pun ikut panik. Ikut mengaduk-aduk….! Agak sulit berpikir bijaksana, apa yang sebetulnya kita perlukan? Apa yang benar-benar diinginkan? Warna apa yang bagus? Harganya apa memang betul segitu? Cukup murahkah? Atau sama saja dengan yang di Jakarta? Perlu beli sekarang, nggak? Atau pilih model yang lain aja? Aaarrgghhhh….!!!! Mendadak butuh Kit-Kat. Give me a break.

Pesan moral:
Belanja di FO memang kudu pagi-pagi sekali. Keuntungannya adalah:
1. FO tampil rapi jali sekali. Memilih model, warna dan ukuran jadi jauh lebih mudah.
2. FO tampak lega. Kita bebas hilir-mudik tanpa berebut.
3. FO jadi ramah. Mbak-mbak pramuniaga bisa berkesempatan melayani kita dengan baik, bahkan bisa sempat memberi petunjuk kemana harus mencari sesuatu yang diinginkan.

Mana yang lebih mengesalkan: mengantri atau menunggu?

Antri di Koffie AromaMenunggu tentu lebih mengesalkan. Karena yang ditunggu belum tentu datang. Sementara mengantri, selain kemungkinan besar barang antrian bisa sampai di tangan, kita mendapat semacam pujian: bisa tertib mengantri = orang yang berbudaya.

Demikianlah, beli kopi pun harus mengantri. Tak apa. Masih ada cukup banyak amunisi untuk itu. Di Koffie Fabriek AROMA, kita bertemu dengan para pecinta kopi. Mengantri bersama-sama dengan (pura-pura) tenang, (pura-pura) sabar. Kemudian datanglah pecinta kopi lain, yang langsung menanyakan jenis-jenis kopi dan langsung memesannya. Dari cara bicaranya, terdengar bahwa Bahasa Indonesia yang digunakannya bukanlah bahasa ibunya. Begitu beberapa bungkus kopi pesanannya mendarat di tangannya, si pecinta kopi itu memanggil dan memintaku memotret si bungkus kopi.

Tuan KoffieDengan senang hati, kulakukan. Klik! “Tak perlu memfoto saya,” katanya. “Ups! Sudah terlanjur…,” kujawab sambil nyengir. “Foto tulisannya saja, biar kelihatan,  (ini) pakai bahasa Belanda…” Kujawab dengan “klik” sekali lagi. Dia tersenyum lebar begitu kuperlihatkan hasilnya. Nah, begitu melihat wajahnya lebih jelas, dugaan kerasku adalah: si pecinta kopi ini mungkin “pecinta bahasa Belanda” juga. What do you think?

img_0549b.jpg  img_0552c.jpg  img_0547c.jpg

Capeee deeehhhSekali lagi mengantri, menjelang kembali ke Jakarta. Kali ini demi brownies kukus Amanda. 11.25 Dina sudah memantapkan posisinya dalam antrian. Kecepatan menuju loket kasir jauh dibawah kecepatan bertambahpanjangnya antrian. 15 menit kemudian, saat Dina baru beranjak maju sekitar 2 meter, panjang antrian sudah bertambah dari 5 meter menjadi 12 meter lebih. Nggak heran, kalo komentar Dina di foto ini adalah: Capeeeek deehhhh. Baru pukul 12.00 brownies kukus boleh dibawa pulang. Whheeewww…..!!

Bersambung ke Bandung: All about Memories (Part 3 – habis)

9 Comments

  1. Adduuh si neng geulis ini pintar bercerita, dasar wartawan….

  2. Yun, lo sebenarnya mau motret si oom aja khan….atau emang sebenarnya lo naksir sama oomnya kali? hah ahaha hahahahhaaha….
    Gue ini kalo ke FO mau-mau enggak enggak, tapi beli juga, karena kebanyakan yang dibeli akhirnya suka rusak setelah dipakai beberapa kali…seperti contohnya baju hitam yang aku beli kemaren di bandung, udah keburu copot empat kancing..untung di bawah bukan diatas ya…

  3. Iya, emang maunya motret si oom. Tanpa si oom, si Koffie kekurangan makna..
    Tapi, to be frank, emang si oom sudah menarik perhatian sejak semula… hehehe…
    Tiba-tiba saja, Fabriek Aroma jadi benar-benar ada di jaman Belanda…

  4. Loooh kan kalo ga pandai bercerita, Bandung ga akan laku tuh…. Sebab orang Jakarta yang bikin macet Bandung dan borong apa aja buat dibawa balik ke Jakarta. Seperti yang Yuni bilang, “ke FO mau mau enggak enggak tapi beli juga”.. itu kan namanya latah-latahan aja. Dasar perempuan emang susah kalo ga buka dompetnya semenit….aja ;)

  5. Krn diminta Dina, boleh dong komentar?

    Foto berempat di depan pemandangan…dimanakah itu?
    Jadi, dina beli kopi itu disana toh?
    Din, kopi yg kita bikin kemarin kepahitan sampai ngga kuat habisin.

    Yun, blognya bagus deh!

  6. Hai Rosinta, tks sudah mampir…
    Itu foto kita di depan kamar kita di Horison Boutique, Dago.
    Begitulah landscape-nya. Menentramkan memang….

  7. sak foto fotnya bagus, apalagi ada opa opa (atau oom??) yang bawa kopi itu. Trus kapan ya aku bisa diajakin “get lost” beneran?

  8. mas dimitri… mbok get lostnya nyambangin aku gicu… nita, aku seneng lho mbok njenguk…

  9. Rina, tks sudah mampir ke sini :)
    Jenguk kamu ke Jerman? Duh… lagi cekak sekarang..
    Doain tahun depan bisa jenguk kamu ya…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment