Pssstt… You’re Invited..!

Birthday Party Report:

Bakmi goreng seafood, Vivid yang akan urus. I Crave donuts sudah dipesan Feli, akan diantar ke kantor sekitar jam 4-5 sore, aku yang akan terima, no. telp I Crave menyusul. Dina beli gelas, garpu plastik, tissue makan, piring kertas. Feli beli lilin ulang tahun… dan seterusnya, dan seterrusnya… Begitu hasil birthday party coordination meeting H-3 kami di kantor, during lunchtime.

Kami yang berulang tahun: Yunita-Felicia-Ruby-Dina si Lady in Red-Vivid. Mbak Juli, entah lagi ngacir kemana..

Bukan…! Kami bukan kembar 6 yang punya hari lahir sama, yang bikin acara ulang tahun di kantor bareng-bareng. Vivid lahir 23 Juni, aku 27 Juni, Ruby tanggal 12 Juli, Mbak Juli 13 Juli, Felicia 16 Juli, Dina 27 Juli. Kami ingin merayakannya bersama-sama demi berbagi bahagia bersama teman sekantor.. Masa iya siiy, cuma berbagi masalah…?

Hampir jam 3 sore, undangan dikirim.. Uppffhh… rasanya mungkin mirip seperti orang yang memutuskan untuk menikah. Hueheheheee…. Abisnya, begitu undangan terkirim, there’s no way back. Acaranya nggak boleh gagal. Rencana kudu jalan terus. Kudu siap dogossipin juga..!! [Gghrrrrr….. Siape lo?! Luna Maya?]

Detik-detik Menjelang Pesta

Mbak Juli paling sibuk downloading semua peralatan pesta dari mobilnya. Mulai dari alat makan, pemanas, karaoke, kompor, dll. Dia bahkan butuh 2 hari untuk berhasil mengangkut semuanya dari rumah ke kantor. Aku dan Ruby sibuk cari akal gimana caranya bikin kue ulang tahun kami yang imut itu, biar bisa lebih tampak menyolok. There’s no birthday without a birtday cake, huh?

Tiba-tiba…….. “Hadduuuuhhh……!!! Kok pepayanya dipasang begitu sih? Ini kan maksudnya  “Wish upon a star”…!!” kata Feli ke Dina, yang menancapkan pepaya berbentuk bintang pada tusuk sate – bukannya ditusukkan tegak lurus mengarah ke atas, malah ditusuk melintang. Dengan ringan, Dina bilang, “Oh, ini bentuknya bintang, to? Nggak bilang sih…” Huahahaaaa….. Kami memang menyiapkan sate buah. Simpel, segar, dan yang paling penting, nggak butuh wadah. Bikin pesta di kantor, tentu peralatan makannya terbatas kan? Sate buah bisa dijadikan solusi.

Dan…. presentasinya juga bisa OK loh.. Kami menancapkannya di atas kulit semangka yang ditelungkupkan, setelah dagingnya habis dikeruk. Oh ya, ada cerita lucu, tentang Mas Wawan, one of our OBs yang bantuin nyiapin pesta. Pas dia angkut semangka yang tinggal daging kulit luarnya itu dari mobil ke ruang meeting room – yang kami minta ‘secara paksa’ untuk dijadikan tempat pesta – dia tanya begini ke Feli: “Mbak, gimana cara makan semangkanya, kalo sudah habis begini..??”  **%#*()_^)@!!??*&^*()…!!!!!!!

Lite Dinner Served, Karaoke Provided!

Selasa, 29 Juli 2008, jam 6 sore: Pesta dimulai…! Seneng banget ngeliat wajah teman-teman yang datang. Semua keliatan happy, padahal udah lepas jam kantor, dan pastinya mereka udah pada capek. Mereka langsung berbaur dan hahahihi. Kami berenam yang punya acara jadinya tak terlalu repot berusaha membuat mereka merasa nyaman. It’s a semi-private party. Sejak awal memang sudah dirancang begitu, demi mendapatkan suasana hangat dan bisa dapat suasana riang-gembiranya sekaligus. There can be no birthday without the happy…

Sambil menunggu kedatangan teman-teman yang lain, Bu Mona, penyayi professional yang dengan baik hati bersedia kita bayar dengan cek kosong, asyik berlatih sekalian check-sound, Dina sibuk mencampur minuman andalan pesta, Purple Punch; aku nerusin bikin nachos, memanaskan roast chicken; Felicia mulai membuka aluminium foil yang membuka Nasi Pakistannya [cara membuat semua menu itu, ada di bagian paling bawah tulisan ini]. Lalu, datanglah saat dimana pesta benar-benar tak dapat ditunda lagi…

Nggak ada ulang tahun tanpa harapan dan doa yang dipanjatkan. Pak Faesol, dengan penuh perhatian membuat ‘make a wish moment’ untuk kami: “Semoga diberi kesehatan dan rejeki……..” Dijawab keras oleh semua yang hadir: Amin…!!; “Semoga diberi jodoh bagi yang belum menemukan jodohnya………” Jawabannya makin keras lagi: “AAAaaammmiiinnnnn……..!!!!!”

Blow them out!!! Oooppss…. Feli….., knapa tiup 2 lilin sekaligus…??? Hehehe… Lilinnya emang cuma 6, masing-masing cuma kebagian satu lilin, jadi emang susah kalo cuma niup 1 lilin aja. Pantasnya sih, kita punya 18 lilin untuk kita tiup sendiri ya, Fel? Tahun ini, kita kan berulang tahun yang ke 18… [hehe.. lari aja terus dari kenyataan…]

Perut sudah lapar, saatnya menyerbu makanan. Aneka bakso, sponsored by our friend Enis, sudah menggelinding ke perut masing-masing. Enis juga rajin banget untuk constantly checking tingkat kepanasan kuah baksonya. Apalagi maksudnya kalo bukan menyiapkan yang terbaik buat teman-teman.

Hasilnya? Temen-temen yang semangat pengen nambah bakso, terpaksa kecele, bengong mendapati tungku bakso yang melompong, karena lagi diangkut dari meja untuk dipanasin. Sambil memegang mangkuk kosongnya, aku temukan ada ekspresi bingung plus kecewa di wajah mereka.. “Baksonya doongg….!!!”  Lalu terdengar sahutan yang melegakan, “Comingggg…..!!”

gerombolan senang-senang di sore itu...

sebagian gerombolan senang-senang di sore itu...

Nasi Pakistan, rasanya enak banget. Itu satu-satunya menu yang mengenyangkan. Bang Arya yang baru terima medical record-nya, terpaksa tak mempedulikan what it says. Cholesterol? LDL? (errr… uhmmm.. apaan tuh??). Maap Bang, we couldn’t resist serving it. Bakmi goreng seafood, sebagai simbol pajang umur, ludes juga. Buat yang tahan nggak makan nasi di malam hari, kami sediakan cemilan risoles isi keju dan daging asap. Purple Punch bikinan Dina yang sedikit asem dan segar terasa cocok sekali menyapu lidah setelah menikmati santapan yang bikin gendut. Trus, ada green tea ice cream dan chocolate cookies, siapa yang bawa ya?? Lala? Thanks loh…

"Bang Toyib.. Bang Toyib.. knapa tak pulang.. pulang...."

Put the music on..!! Ini penampilan Bu Mona dan Pak Roesman. Tapi mereka tidak menyanyikan lagu dangdut itu kok. Mereka menyanyikan lagu… eee.. apa yah? Duh, lupa. Tapi yang penting, mereka senang. That’s the point! We couldn’t ask for more. Look Tandar, one of our OBs, dia juga terlihat menikmati suasana. Meski lagu yang dinyanyikannya bernada “doooo” semua, justru itu yang bikin pestanya makin seru..!

Indeed, there’s no party without presents… Tapi, bener loh, kami tak mengharapkannya. But it’s really sweet that our friends coming with presents in hands. Tapi ughh…!!!! Dasar semuanya suka jahil. Kurang rela ngasih kado tanpa ngerjain kami lebih dulu.

waaahh.... dapet apa ya?

waaahh.... dapet apa ya? Itot bilang, besar kado tak mencerminkan harganya...

bergaya ala selebritis, nunjukin buku nikahnya ke media

Pak Roesman, bikin permainan yang rada nggak jelas. Tujuannya cuma satu: bikin kami bisa dihukum. Kami kudu ikutin perintahnya berbaris berdasarkan tanggal ulang tahun, berdasarkan jam kami dilahirkan, berdasarkan nama hari kami berulang tahun, berdasarkan tinggi badan….. Hadoooww…!! Maksudnya apa??Tapi suasana jadi tambah seru dan panasss….!! Vivid yang gagal berbohong tentang jam lahirnya, dihukum menyanyi. Aku gagal menyadari tinggi badanku yang sebenernya (sok tinggi, tepatnya. begitu sendal kucopot, tampaklah kondisi yang sebenarnya). Aku juga dihukum tanpa belas kasihan. Pak, we love you, though!

international paparazi capturing every single moment...

international paparazi capturing every single moment...

Thankful

Thanks to Pak Roesman yang ngijinin kami bikin pesta di Goa Terrace dan bikin pestanya meriah. Thanks to Eva yang udah susah-susah milihin kita kado yang super cantik. Kotak berisi coffee-set yang jadi milikku, masih kusimpan rapi. Thanks to Enis sebagai donor. Thanks to Lala for your support. Thanks to Mira & Maya untuk gift-nya. Thanks to Bu Mona yang bertahan karaoke dengan kami sampe jam 9 malam. Thanks to Itot yang temani kami nyanyi gila-gilaan termasuk matiin lampu ruangan. Thanks to Abang untuk rekaman video-nya. Thanks to Bu Esti yang bikinin kami masing-masing kartu ucapan selamat ulang tahun.

Thanks to semua yang bikin doa bagus-bagus di kartu itu. Thanks to semua yang meluangkan waktu untuk kami. Thanks to semua yang menyediakan foto-foto ini. Thanks to semua yang ada di balik layar.

Semoga kita semua panjang umur…!

————————————————————————————-

MenuPestaKami

Pakistani Rice

Nasi Pakistan

Nasi Pakistan a la Felicia's Mom

A.
1 thumb-sized piece ginger
3 cloves garlic
4 green chillies
 
B.
1 handful mint leaves
2 stalks coriander with roots, rinsed
2 tomatoes, cut in eights
2 tablespoons tomato puree
 

Seasoning
2 teaspoons salt
2 teaspoons msg
1 teaspoon sugar
1.6 kg (3.5 lb) chicken quartered
225 g (8 oz.) ghee or 112 g (4 oz.) butter with 112 ml (4 fl. oz.) oil
1 teaspoon dry chilli powder mixed to a paste with water
1 level teaspoon garam masala (see recipe)
170 ml (6 fl. oz.) evaporated milk mixed with 1 tablespoon lemon juice and
112 (4 fl. oz.) water
285 g (10 oz.) shallots, thinly sliced.
 
Method
1. Marinate chicken pieces with 1 level tablespoon salt and 1 teaspoon msg  for 1 hour.
2. Heat a large saucepan with half of the ghee.  Fry the shallots till golden brown. Set aside.
3. Fry A till fragrant.  Add chilli paste and garam masala, then add in B, seasoning and 1/2 of the milk mixture. Stir-fry till oil bubbles through.
4. Put in chicken pieces, fried shallots, remaining milk and oil. Cook over high heat for 10 minutes.
5. Reduce heat to low and cook gently till chicken is tender. Drain chicken, keeping oil to cook the briani rice.
 
To Cook Rice

C.
1 teaspoon chopped ginger
1 tablespoon chopped garlic
4 shallots, thinly sliced

D.
5 cm (2 in) cinnamon bark
8 cardamoms, lightly bashed
6 cloves
600 g (21 oz.) Basmati (long grain) rice, washed and drained
55 g (2 oz.) ghee
 
Seasoning:
1 teaspoon msg or 1 chicken cube
1.5 teaspoons salt
1.1 litres (40 fl. oz.) boiling water

Colouring for Rice:
1. Mix 1 teaspoon yellow food coluring with 0.25 teaspoon Rose essence and 4 tablespoons water.
2. Heat wok with 55 g (2 oz.) ghee to fry C till lightly browned, add in D  and stir-fry for 1/2 minute. Add in the remaining oil and the rice. Stir in pan till oil is absorbed into rice.
3. Pour in the boiling water and the seasoning. Cook rice in an electric   rice-cooker till dry and fluffy. Do not stir while cooking.
4. Remove lid and sprinkle the yellow colouring mixture over rice. Continue to cook for another 10 minutes. Remove from heat. Loosen rice, mixing colours evenly. Serve hot with chicken.

purple punch a la Dina

Purple Punch a la Dina

Purple Punch

1000 ml cranberry juice
1000 ml red grape juice
400 gram gula pasir
500 ml susu cair

Semua bahan didinginkan di lemari es. Tambahkan gula dan susu cair, aduk hingga larut. Sajikan dingin dengan es batu dan irisan strawberry.

Nachos

3 bungkus tortilla
1 kotak keju mozzarella
1 kotak keju cheddar
1 botol salsa pedas
2 tomat buah manis, dibuang bijinya, potong dadu untuk taburan

Atur tortilla di atas piring datar. Serut keju mozzarella menutupi seluruh permukaan tortilla, panaskan dalam microwave 1-2 menit sampai keju meleleh.
Keluarkan dari oven, taburi dengan parutan keju cheddar, olesi dengan salsa, lalu taburi dengan potongan tomat segar. Hidangkan segera.

Sorry, photo not available. Knapa nggak ada yang foto nachos gue…???!! Huuuh…!!

Selamat mencoba. Semua resep telah dicoba di dapur Goa🙂

 

Bandung: All about Memories (Part 3 – Habis)

4 Girls in Bed, Jayakarta Boutique, BandungBerempat dalam satu tempat tidur: Why Not?

Apapun bisa terjadi bila berakhir pekan di Bandung saat long weekend, kalau kita membiarkannya terjadi🙂 Ketersediaan kamar hotel adalah masalah terbesar. Dua malam di Bandung, kita menginap di dua hotel. Malam pertama menginap di Jayakarta Boutique, malam kedua menginap di Horizon Boutique. Karena kita cuma kebagian satu kamar di setiap hotel itu, apa boleh buat, kita terpaksa tidur secara pas-pasan. Maksudnya, pas untuk membaringkan badan saja, tak bisa terlalu bebas bergerak.

di depan kamar hotel Horizon Boutique, BandungDi Junior Suite Jayakarta Boutique Hotel sih, masih lumayan. Kita tidak tidur berempat di satu tempat tidur yang king size itu. Aku yang mulai bersin-bersin, tidur terpisah di sofa bed. Tapi, saat kita pindah ke Horizon Boutique, tak ada pilihan lain, selain tidur berempat dalam kamar tidur twin bed. Jadi, sebelum tidur kita olah raga dulu dengan menggeser tempat tidur untuk menyatukan keduanya.

Yuni and Me, Horizon Boutique, BandungHorizon Boutique, hotel baru yang baru dalam periode soft opening per 30 Mei 2007. Kamar yang siap huni hanya 20, 45 lainnya masih dalam tahap pembangunan. Hotel ini bernama Singajati sebelum diambil alih Horizon Group. Dengan harga 600 ribu lebih semalam (berapa tepatnya ya, Din?), hotel ini terbilang mahal. Tak ada AC (padahal kalau siang, bisa terasa panas juga), tak ada minibar (dimana dong, kalau mau simpan susu?), dan cuma ada shower yang tak dilengkapi tirai mandi. Lokasinya memang tenang, karena jauh tinggi di Dago, dan sudah pasti berudara segar. Sungguh tepat kalau pihak hotel memberi tag line pada hotel ini: a perfect place to hide away….

Pagi hari, dari kamar hotel HorizonTapi tujuan kita ke Bandung sama sekali bukan untuk bersembunyi. Salah besar itu! Melarikan diri, mungkin lebih tepat. Melarikan diri dari sebagian kenyataan hidup, bahwa kita ini pekerja. Jadi, salah satu (dan mungkin satu-satunya) peraturan perjalanan kita adalah: dilarang membicarakan masalah kantor atau pekerjaan. Yang tak sengaja bicara, didenda 1000 rupiah. Jangan tanya siapa yang pernah kena denda diantara kita. Karena semua pasti ngelesss…… kalau kedapatan melanggar peraturan.

Masalahnya, sebagian besar hidup kita dipakai untuk memikirkan pekerjaan (kasihan ya?). So, tidak mudah mengikuti peraturan ini. Tidak mudah juga menemukan topik pengganti yang setara. Padahal, kita butuh topik bicara yang harusnya lumayan menarik saat menyusuri jalanan Bandung yang sungguh padat, padat dan padat. Akhirnya, kita bermain-main dengan bluetooth. Kirim ini kirim itu. Salah satu yang dipertukarkan adalah ringtone SMS versi Onta Arab. Lucu deh! Dina mendapatkan ringtone ini dari kakaknya di Aussy. Heran juga, mana ada onta Arab yang cari minum di Aussy?😀

Percayalah, tak selamanya kita bisa bersama…

Ketan BakarItulah kenyataan yang harus diterima. Kalau tidur berempat di satu kamar bisa menyelesaikan masalah ketaktersediaan kamar hotel buat kita, maka makan pagi bersama-sama, sama sekali tak mungkin dilakukan. Hotel hanya menyediakan dua piring makan untuk setiap kamar. Nah, siapakah yang berhak makan pagi gratis di hotel? Dasar perempuan, bikin lotere arisan adalah jalan keluar yang dipilih. Dina dan aku kebagian breakfast di Jayakarta, dengan demikian, Mbak Sivi dan Yuni bisa breakfast gratis di Horizon.

Untung ketemu Pak Aceng!

Putar-putar Bandung dengan segala macam keinginan dalam waktu yang terbatas, tidak mudah dilakukan. Apalagi sejak Pak Sanca, “kecengan” baru kita (baca Part 1) ingkar janji. Dia tak jadi datang mengantar kita mengitari indahnya Bandung. Yuni lalu mengaduk-aduk buntelan (hihihi… buntelan..) kartu namanya, lalu menelpon.

Lalu datanglah Pak Aceng, sang dewa penyelamat,  dengan Avanza-nya. Berkat Pak Aceng kita bisa pindah hotel dengan lancar, bisa makan siang di Batagor Riri (sehingga Yuni bisa merasakan kembali minuman masa kecilnya, Sarsaparila), makan malam dengan sup ayam dan kepiting di pinggir jalan, ke FO, Circke K, Kartika, Amanda, sampai mengantarkan kita ke depan pos XTrans di Cihampelas, siap kembali ke Jakarta. Tentu tidak gratis, dewa penyelamat ini kita bayar: 40 ribu/jam.

Batagor Riri  Sarsaparila  menunggu pesanan datang…

Kudu bayar berapa siihhh…???Ahhh….. jadi ingat, bagaimana perhitungan keuangan patungan kita ini. Bagaimana jeng Yuni? Masa, catatan pengeluaran hanya rapi di awal perjalanan saja? 

Dari perhitungan yang kamu buat ini, hanya terlihat betapa kamu ogah rugi banget Yun….

Masa, tips untuk room boy yang cuma 10.000 itu, kamu bagi empat??? Ohhh…. pleaseee…. beginikah cara seorang master of finance bekerja? Huahahaha…..

-Habis-

Bandung: All about Memories (Part 2)

Seperti halnya kesedihan dan kebahagian, kepanikan pun menular…

Rumah Mode adalah FO pertama yang kita kunjungi, malam itu, hari pertama berakhir pekan di Bandung. Walaupun sudah menyiapkan mental, kita bakal menemui keramaian yang luar biasa, tetap saja ada kejutan-kejutan kecil. Contohnya: nyenggol pantat orang berkali-kali, kena hempasan siku tangan sesama pengunjung yang tak sengaja (atau sengaja?), mendengar perbincangan dengan logat Malaysia, kehilangan teman belanja sehingga terpaksa nelpon berkali-kali dengan pertanyaan yang itu-itu juga, “Kamu di mana?”

Silvia - Me - Yuni - DinaSetelah Rumah Mode, berikutnya adalah Heritage, Cascades, dll… Semuanya sama saja. Banyak orang panik di dalamnya. Semuanya sibuk mengaduk-aduk. Kita pun ikut panik. Ikut mengaduk-aduk….! Agak sulit berpikir bijaksana, apa yang sebetulnya kita perlukan? Apa yang benar-benar diinginkan? Warna apa yang bagus? Harganya apa memang betul segitu? Cukup murahkah? Atau sama saja dengan yang di Jakarta? Perlu beli sekarang, nggak? Atau pilih model yang lain aja? Aaarrgghhhh….!!!! Mendadak butuh Kit-Kat. Give me a break.

Pesan moral:
Belanja di FO memang kudu pagi-pagi sekali. Keuntungannya adalah:
1. FO tampil rapi jali sekali. Memilih model, warna dan ukuran jadi jauh lebih mudah.
2. FO tampak lega. Kita bebas hilir-mudik tanpa berebut.
3. FO jadi ramah. Mbak-mbak pramuniaga bisa berkesempatan melayani kita dengan baik, bahkan bisa sempat memberi petunjuk kemana harus mencari sesuatu yang diinginkan.

Mana yang lebih mengesalkan: mengantri atau menunggu?

Antri di Koffie AromaMenunggu tentu lebih mengesalkan. Karena yang ditunggu belum tentu datang. Sementara mengantri, selain kemungkinan besar barang antrian bisa sampai di tangan, kita mendapat semacam pujian: bisa tertib mengantri = orang yang berbudaya.

Demikianlah, beli kopi pun harus mengantri. Tak apa. Masih ada cukup banyak amunisi untuk itu. Di Koffie Fabriek AROMA, kita bertemu dengan para pecinta kopi. Mengantri bersama-sama dengan (pura-pura) tenang, (pura-pura) sabar. Kemudian datanglah pecinta kopi lain, yang langsung menanyakan jenis-jenis kopi dan langsung memesannya. Dari cara bicaranya, terdengar bahwa Bahasa Indonesia yang digunakannya bukanlah bahasa ibunya. Begitu beberapa bungkus kopi pesanannya mendarat di tangannya, si pecinta kopi itu memanggil dan memintaku memotret si bungkus kopi.

Tuan KoffieDengan senang hati, kulakukan. Klik! “Tak perlu memfoto saya,” katanya. “Ups! Sudah terlanjur…,” kujawab sambil nyengir. “Foto tulisannya saja, biar kelihatan,  (ini) pakai bahasa Belanda…” Kujawab dengan “klik” sekali lagi. Dia tersenyum lebar begitu kuperlihatkan hasilnya. Nah, begitu melihat wajahnya lebih jelas, dugaan kerasku adalah: si pecinta kopi ini mungkin “pecinta bahasa Belanda” juga. What do you think?

img_0549b.jpg  img_0552c.jpg  img_0547c.jpg

Capeee deeehhhSekali lagi mengantri, menjelang kembali ke Jakarta. Kali ini demi brownies kukus Amanda. 11.25 Dina sudah memantapkan posisinya dalam antrian. Kecepatan menuju loket kasir jauh dibawah kecepatan bertambahpanjangnya antrian. 15 menit kemudian, saat Dina baru beranjak maju sekitar 2 meter, panjang antrian sudah bertambah dari 5 meter menjadi 12 meter lebih. Nggak heran, kalo komentar Dina di foto ini adalah: Capeeeek deehhhh. Baru pukul 12.00 brownies kukus boleh dibawa pulang. Whheeewww…..!!

Bersambung ke Bandung: All about Memories (Part 3 – habis)

Bandung: All about Memories (Part 1)

Ada beberapa kenangan penting dengan Bandung. Di sanalah pertama kali punya pengalaman tinggal di rumah kost. Pertama kali naik angkot. Pertama kali berusaha meraih cita-cita besar. Pertama kali mengalami kegagalan dalam hidup: tidak tembus tes masuk FSRD-ITB.

Yuni - Dina - Me - SilviaTapi ini bukan cerita tentang semua itu. Ini catatan liburan akhir pekan di Bandung, 1 – 3 Juni 2007.

Buat yang tinggal di Jakarta, berlibur ke Bandung, bukanlah suatu kemewahan. Tapi buat aku yang sudah sekian lama tak punya akhir pekan, bisa berlibur ke sana, sudah menggembirakan..

Jatuh hati pada nasi hideung

Adalah Pak Sanca – tolong jangan sampai berpikir tentang makhluk melata itu, karena dia sama sekali tidak membahayakan – sopir BlueBird yang mula-mula bertanya, apakah kita sudah pernah ke Punclut, tempat kota Bandung bisa dilihat dari atas. Kita jawab: BELUM. “Di sana kita bisa makan nasi item”, katanya lagi. “Apakah cuma di sana tempat kita bisa makan nasi item?” tanyaku untuk memastikan jangan sampai usaha pergi ke Punclut – sesuatu yang sama sekali tidak pernah direncanakan, hanya sesuatu yang tak terlalu penting dilakukan. Pak Sanca menjawab, “Ya, cuma ada di sana.” Well, apa boleh buat, kali ini diperlukan spontanitas. Setelah check-in di Jayakarta Boutique, kita meluncur ke Punclut.

img_0507-punclut.jpgJalan ke Punclut, ternyata tidak mudah. Kita harus melewati jalan tanah yang berkelok tajam, naik turun, cukup bikin was-was. Yang makin bikin was-was, tidak ada tanda-tanda bahwa nasi item itu masih tersedia di warung-warung yang kita lewati. Bahkan, warung-warung itu tutup. Saat itu sekitar pukul 5 sore.

“Nasi hideung, aya’?”, Pak Sanca bertanya pada orang ke-2 yang kita temui di jalan, sambil mencari petunjuk jalan. Mungkin lagu yang agak tepat untuk menggambarkan suasana hati saat itu adalah lagu Balonku Ada Lima, pada baris ini: “….hatiku ‘mulai’ kacau….”

Sindang HeulaAkhirnya, kita bertemu juga dengan Nasi Hideung. Dalam bakul nasi – warung tempat kita menjatuhkan pilihan – tersedia 3 jenis nasi, nasi putih, nasi merah, dan nasi hitam. Warna nasi hitam, tidak sehitam yang dibayangkan juga. Nasi hitam ini hanya sedikit gelap dari warna nasi merah. Dan rasanya……. ughhh….. benar-benar kriminal..!!

Isi piring DinaSebagai teman nasi hideung, kita pilih pepes ayam, pepes jamur, pepes ikan mas, dan tahu tempe goreng.

Sambal enakSambalnya habis digasak Mbak Silvi dan Yuni. Enak banget siiihhh…. Btw, apa nama sambalnya, Yun? Semua orang nambah, sampai semuanya tandas. Kalo nggak salah, Dina nambah sampai 5 kali..😀

Kerupuk hideungOh ya, kerupuknya juga item loh….. Apakah juga karena mengandung nasi hideung? Ah, tak penting juga pusing mikirin bahan pembuatnya. Yang penting, makaaaaaannn…..!!!

Dan untuk semua keindahan rasa ini, kita cukup bayar 33 ribu sekian saja, sudah termasuk teh wangi dan kopi tubruk. Sempet terpikir, untuk menjadikan nasi hideung sebagai menu makanan ritual setiap kali bila berkunjung ke Bandung lagi..

Bersambung ke: Part 2